Jumat, 27 Februari 2015

KURIKULUM DI FINLANDIA


Hasil gambar untuk gambar kurikulum
ADA BEBERAPA HAL YANG DAPAT SAYA GARIS BAWAHI MENGENAI KEHIDUPAN DI SEKOLAH FINLANDIA. SETIDAKNYA MAMPU MEMBERIKAN PENCERAHAN BAGI GAYA DIDIKAN DI INDONESIA.

1. Persamaan

Persamaan (equality) menjadi dasar utama dalam kesuksesan pendidikan di Finlandia. Mereka memberikan gaya pengajaran, kurikulum, dan fasilitas yang sama bagi seluruh sekolahan. Mereka tidak juga membagi kelas berdasarkan nilai, hingga tiada istilah kelas unggulan dan kelas biasa. Semuanya bercampur tanpa kotak-kotak si pintar dan si bodoh. Pun tiada ranking dalam seluruh penilaian, baik itu ranking murid di dalam kelas, ranking antar kelas dalam satu sekolah, ranking antar sekolah dalam satu wilayah, hingga ranking sekolah berdasarkan propinsi. Bahkan tidak dianjurkan memberikan nilai dalam bentuk angka. Sistem seperti ini bertujuan agar tidak ada kesenjangan antar murid maupun antar sekolah. Ditambah dengan tiada sekolah swasta dan bebas aneka pungutan, semakin membuktikan kalau Finlandia pantas meraih predikat negara dengan sistem pendidikan terbaik.

2. Waktu Bersekolah

Pada dasarnya, sekolah memberikan kebebasan bagi anak-anak untuk kapanpun memulai masuk dalam pendidikan formal. Namun, umumnya anak-anak Finlandia baru bersekolah pada usia tujuh tahun. Masa dirasa cukup bagi para bocah untuk belajar, setelah tahun-tahun sebelumnya mendapatkan kebebasan penuh hanya puas bermain terlebih dahulu. Umur tersebut dirasa waktu paling tepat bagi anak-anak untuk mengenal dunia belajar di dalam kelas.

3. Belajar Mengajar


Mereka membentuk perangai murid yang kritis. Anak-anak boleh berlari di dalam kelas, diijinkan untuk bertanya kapan saja kepada guru, sesekali berkutat dalam kelompok untuk mengenal arti kerja sama. Uniknya, setiap anak mendapatkan tugas yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing. Setiap guru dituntut untuk mengenal pekerjaan apa yang cocok untuk setiap muridnya. Bahkan guru jarang sekali lama-lama berbicara seorang diri di depan kelas. Sebagian besar waktu digunakan untuk belajar sambil bermain bersama murid-murid. Rentang waktu belajar mengajar di sekolah Finlandia justru paling pendek, sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan dengan bermain di luar daripada di dalam kelas. Satu hal lain yang tak kalah pentingnya, mereka jarang sekali memberikan pekerjaan rumah (PR).

4. Guru Terbaik

Setiap guru mengurus jumlah murid yang terbilang kecil, sekitar dua puluhan siswa. Guru tersebut juga terus-menerus yang menjadi tenaga pengajar selama beberapa tahun pada kelompok siswa tersebut. Hal ini dimaksudkan agar ada kedekatan secara personal antara guru dengan murid, selain itu guru akan mengenal baik perkembangan muridnya dari tahun ke tahun. Dengan tujuan akhir, guru dapat menuntun siswanya untuk mengembangkat bakat dan kemampuan mereka.

Finlandia melakukan perekrutan hanya kepada guru-guru yang berkualitas. Tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi merangkul anak-anak untuk mengembangkan kreativitas. Guru pun tidak wajib menuruti 100% silabus dari pemerintahan tetapi memiliki hak sepenuhnya untuk bersuara demi kemajuan pendidikan mereka. Di sinilah peran aktif guru yang harus bersikap inovatif dalam proses belajar mengajar. Mereka membuka akses seluas-luanya kepada murid-muridnya yang ingin berkomunikasi, melalukan konseling, hingga dalam menghadapi kesulitan.

Saya seperti tumbuh dengan anak-anak saya sendiri. Saya melihat masalah yang mereka hadapi ketika mereka kecil. Dan, kini setelah lima tahun, saya masih melihat dan memahami perkembangan yang terjadi dalam masa muda mereka, langkah terbaik yang bisa mereka lalukan. Saya katakan kepada mereka saya seperti ibu sekolah mereka” tuturnya. (Ibu guru Marjaana Arovaara-Heikkinen-pen) [http://mediaonlinenews.com/dunia/firlandia-negara-dengan-sistem-pendidikan-terbaik-di-dunia]

Di setiap akhir tugas, guru melakukan evaluasi mengenai perkembangan masing-masing anak didiknya. Tentu saja, guru mendapatkan kompensasi yang setimpal, sebagai profesi yang sangat membanggakan karena memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak bangsa.

5. Kurikulum

Foto: Kurikulum Finlandia (info dari: http://www.metafilter.com/tags/finland)

6. Bebas Kepentingan

Pemerintah Firlandia bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan murid, guru, dan kondisi sekolah. Pihak tersebut juga 100% terbebas dari kepentingan kelompok tertentu, kepentingan para pendidik, kepentingan bisnis, maupun politik dan militer. Tidak ada istilah buku-buku, aneka les privat yang dimanfaatkan sebagai komoditas. Sekolah benar-benar bersifat mandiri dan diperuntukkan untuk menyetak generasi penerus bangsa yang berbobot.

7. Budaya Membaca

Faktor luar yang juga menentukan adalah budaya membaca yang sudah berpendar di khalayak Finlandia. Peran orang tua juga penting sebagai pihak pertama yang menanamkan budaya membaca tersebut. Sehingga para bocah tersebut sudah terbiasa dengan budaya membaca sedari kecil.


Berdasarkan tes PISA (Program For International Student Assessment), yang bertugas menguji perkembangan anak-anak sekolah pada usia 15 tahun di seluruh dunia, membuktikan kalau anak-anak Finlandia mengalami kemajuan yang pesat. Program yang dilaksanakan oleh Organisation For Economic Co-operation and Development (OECD) ini untuk mendapatkan metode pendidikan yang paling sempurna di dunia.
Poin-poin tersebut dapat menjadi ikhtibar bagi perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia. Agaknya banyak hal pada sistem pendidikan Indonesia yang perlu diperbaiki. Mulai dari pemerataan pendidikan di seluruh wilayah, gaya pengajaran, penyeleksian guru ulung bukan sekedar rentang waktu pengabdian, hingga dukungan dari masyarakat Indonesia. Semua hal tersebut memiliki satu tujuan, yaitu menciptakan sistem pendidikan yang tepat bagi anak-anak bangsa sebagai pemegang tongkat estafet pemimpin di masa depan.

LINGKUNGAN YANG KONDUSIF

Saya kembali teringat dengan pemikiran Charlotte Mason, seorang pendidik yang menghabiskan hidupnya dengan meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak. Saya cukup tergelak dengan keyakinan kalau tenaga pengajar jangan mengambil alih tugas anak-anak dalam mencerna pelajaran dengan sendirinya. Guru-guru bukanlah sosok yang bertugas untuk sekedar melakukan transfer ilmu, tetapi sebagai pembimbing bagi anak-anak untuk menyelami pelajaran, karena setiap anak terlahir dengan unik dan memiliki karakteristik tersendiri.
Charlotte emphasized treating each child as a person, not as a container into which you dump information. She believed that all children should receive a broad education, which she likened to spreading a feast of great ideas before them.
(Charlotte menekankan bagaimana memperlakukan setiap anak sebagai pribadi, bukan sebagai wadah dimana Anda membuang informasi. Dia percaya bahwa semua anak harus menerima pendidikan yang luas. Ibaratnya dengan menyebarkan ide-ide besar terlebih dahulu kepada mereka)
Sebagai diri sendiri, dapat membentuk suasana pendidikan yang mengayomi dengan tidak membandingkan nilai satu anak dengan anak lainnya. Juga dengan tidak bertanya ranking berapa mereka saat ini. Pun dengan tidak memberikan kalimat negatif yang dapat merendahkan semangat belajar mereka. Kita dapat bersikap terbuka pada siapa saja yang hendak bertanya soal pelajaran, atau menceritakan pelajaran dengan bahasa ringan. Kondisi lingkungan seperti ini dapat menurunkan ketegangan anak dapat menempuh pendidikannya di sekolah.
Sebagai orang tua, dapat memulai dengan memperkenalkan budaya membaca sedari dini. Mengenalkan buku pada anak, melalui membacakan cerita apabila anak belum dapat membaca. Tidak memaksa anak untuk terus belajar, bersikap tenang ketika anak mendapatkan nilai merah, hingga menceritakan kisah-kisah tokoh inspiratif yang dapat menjadi idola mereka.
Sebagai guru, ikonik dunia pendidikan, agaknya mulai menciptakan suasana belajar yang santai serta sarat akan hiburan. Sesekali menonton film yang sesuai dengan usia mereka, membuatkan kelompok agar murid-murid dapat bereksperimen, hingga bersikap terbuka kapan saja kepada setiap siswa-siswinya. Guru, sebagai pihak yang terjun di lapangan langsung, juga dapat bersuara agar menghasilkan kurikulum yang terus lebih sempurna.
Sebagai pemerintah, memiliki tanggung jawab penuh dalam penyusunan sistem pendidikan yang kondusif. Bagaimana pun juga, anak-anak tersebut yang nantinya akan menduduki jabatan di level pemerintahan kelak.
Disinilah letaknya pengaruh lingkungan bagi kehidupan di sekolah. Apa yang berserakan di sekeliling mereka akan memberi dampak bagi mereka kembali. Sesuai dengan penggalan puisi Dorothy Law Nolte berjudul “Anak Belajar dari Kehidupannya”:
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
[Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.sc., Psikologi Komunikasi, hal.103, 2001, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung]
Dengan dukungan seluruh pihak dan tekad yang kuat, kita akan mampu menyusun sistem pendidikan terbaik bagi murid-murid di negeri ini. Masalah pendidikan yang menggelayut saat ini, bagaikan labirin luas, semuanya dapat dikubur dengan inovasi secara simultan. Berawal dengan menyusun kerangka di otak kalau guru adalah ibu sekolah murid-murid, kalau guru adalah pekerjaan yang bernilai tinggi, kalau guru adalah sahabat para siswa. Sebagai Kata Penutup Saya, Ada Kalimat “Besar” yang perlu kita ingat :

“Guru adalah salah satu penentu masa depan bangsa.”


n/b. kutipan dari :
https://wurinugraeni.wordpress.com/2012/11/11/menciptakan-kehidupan-sekolah-yang-kondusif/

Jumat, 14 Juni 2013

SEJARAH SINGKAT SD GMIH PEDIWANG

Desa Pediwang, Kecamatan : Kao Utara, Kabupaten : Halmahera Utara, Propinsi : Maluku Utara
Pendidikan merupakan unsur yang paling penting dalam proses pembangunan, dapat dibuktikan pada Negara-negara maju dengan teknologi yang maju pula. Sebuah pepatah mengatakan Negara yang kuat adalah Negara yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Salah satu aspek yang dapat membantu terlaksananya sebuah pendidikan formal adalah “TEMPAT” dimana terjadinya proses pembelajaran yang baik. Seiring dengan itu dalam pembahasan ini diangkat mengenai proses pendidikan yang terjadi di desa Pediwang dimana terdapat sebuah Sekolah Dasar yang tercatat sebagai sekolah paling tua di kecamatan Kao Utara.

VISI SEKOLAH

“SEKOLAH MEMPERSIAPKAN ANAK DIDIK YANG BERKUALITAS DENGAN BERWAWASAN IPTEK DAN BUDAYA”

MISI SEKOLAH
  • MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN DAN BIMBINGAN SECARA AKTIF, SEHINGGA SISWA DAPAT BERKEMBANG AKTIF SESUAI PRESTASI YANG DIMILIKI
  • MEMBINA SISWA DALAM MEMPERTEBAL KEIMANAN DAN KETAQWAAN KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA

TUJUAN SEKOLAH

- Menciptakan manusia yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti.
- Menciptakan manusia yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Menciptakan manusia yang memiliki ketrampilan hidup
- Menciptakan manusia yang berwawasan luas.

A. PROFIL SEKOLAH
1. Nama Sekolah : SD GMIH Pediwang
2. N S S : 1 0 2 2 1 0 2 1 2 0 1 1
3. Jenjang : Sekolah Dasar
4. Status : Swasta
5. Alamat : Desa Pediwang
Kecamatan : Kao Utara
Kabupaten : Halmahera Utara
Provinsi : Maluku Utara
6. Tahun Berdiri / Beroperasi : 1906
7. Status Tanah : Hibah
8. Luas Tanah : 2.200 m2


B. SEJARAH BERDIRINYA SD GMIH PEDIWANG


SD GMIH PEDIWANG, awalnya didirikan pada tahun 1906, dengan nama Sekolah Rakyat (SR-GMIH) pada zaman penjajahan Jepang. Karena dengan ada nya perang maka sekolah tersebut ditutup, dan dibuka kembali pada tahun 1946 dengan 2 orang guru dan Kepala Sekolah bernama bapak Pdt. Nanere.
Sekolah Rakyat GMIH bangunannya darurat, terbuat dari dinding bambu dan atapnya dari daun sagu (daun rumbia), dengan ruangan terbuka. Pada tahun 1948, terjadi pergantian Kepala Sekolah dari bapak Pdt. Nanere ke bapak guru J. Pumadada, dengan tugas merangkap yaitu menjadi pimpinan Jemaat dan guru sekolah, dan dibantu dengan 6 orang guru lainnya. Seringkali Gedung Gereja dijadikan tempat belajar.
Pada tahun 1949 dibangun gedung yang baru dengan dinding beton has, atapnya dari seng, peninggalan FEN WE ( perusahaan Belanda ) dengan sebagian dinding masih terbuka.
Pada tahun 1959 dibangun bangunan baru sebanyak 3 ruang, dengan dindingnya dari gaba, atapnya daun rumbia. Kepala Sekolah masih tetap bapak guru J. Punadada dan guru bantu sebanyak 5 orang.
Pada tahun 1960 bapak J. Punadada pindah tugas dan diganti oleh Bapak Tjuluku dan dibantu oleh 4 orang guru lainnya. Kemudian beliau diganti oleh bapak Z. Duan karena bapak Tjuluku melanjutkan study dan pembantunya masih tetap 4 orang. Selanjutnya gedung sekolah kemudian kembali dibangun sebanyak 6 ruang dengan dinding dari beton tetapi atapnya masih menggunakan daun rumbia dari dana subsidi desa.
Setelah itu bapak Z. Duan melanjutkan study dan beliau diganti oleh bapak Y. Koyoba dengan dibantu oleh 4 orang guru, lalu bapak Y. Koyoba melanjutkan study dan diganti oleh bapak S. Popoko sebagai Kepala Sekolah dan dibantu oleh 3 orang guru lainnya.
Pada tahun 1967, bapak S. Popoko pindah tugas, dan beliau diganti oleh bapak Z. Singa dan dibantu oleh 6 orang guru bantu. Masa tugasnya sampai tahun 1971. Pada tahun itu juga bapak Z. Singa melanjutkan study dan diganti oleh bapak L. Singa.
Pada tahun 1974 - 1978, kembali lagi bapak Z. Singa menjabat sebagai Kepala Sekolah, karena bapak L. Singa pindah tugas.
Seiring dengan perkembangan, pendidikan di SD GMIH Pediwang banyak menghasilkan siswa-siswi yang menjadi orang - orang berguna.
Dalam Sejarahnya, SD GMIH Pediwang mengalami kemajuan baik dalam jumlah murid maupun tingkat kurikulum,salah satu upaya yang digunakan yaitu dengan diadakan kegiatan remedial bagi siswa yang masih lambat dalam hal membaca, berhitung, dan menulis. kurikulum yang digunakan sekarang ini adalah kurikulum 2006 ( KTSP) dengan jumlah guru pada tahun ajaran 2011 / 2012 sampai penulis menyampaikan data ini menjadi 7 orang dan dua orang diantaranya adalah guru tidak tetap (guru honor), yaitu :
1. Ruben E. Singa (Kepala Sekolah)
2. Novalita Siauta, S.Pd.SD
3. Ormas Pangi
4. Denny C. Wollah, S.Pd
5. Nurhan, A.Ma.Pd
6. Yunita Tasidjawa, A.Ma.Pd (GTT)
7. Gladys Tauran, A.Ma.Pd (GTT)

Demikianlah penyampaian singkat mengenai profil sekolah dan sejarah perkembangan pendidikan yang terjadi di SD GMIH Pediwang, Kecamatan Kao Utara

Salam Pendidikan......

SD GMIH PEDIWANG